Tugas 1 Dasar Penulisan Multimedia : Menanggapi Berita
1. Surat Kabar Cetak
Nama :
Audrey Sabila Andrea
NPM :
210104220013
Kelas :
A
Nama Koran :
Tribun Jabar
Judul Berita : Emak – emak Mulai Bergerak. Unjuk Rasa
di Depan Gedung Sate Tolak Kenaikan Harga BBM
Waktu Terbit : 6 September 2022
Tanggapan Terhadap Isi Berita
Saya tidak terkejut
dengan berita ini. Seperti yang kita tahu, sebagian besar orang di Indonesia
sangat bergantung dengan BBM tanpa terkecuali rakyat kecil. Saya rasa bila akar
permasalahan memang berada pada kenaikan harga minyak dunia itu sendiri, mau
tidak mau pemerintah juga harus ikut menyesuaikan kenaikan tersebut.
Berdasarkan isi
berita, ibu-ibu yang melakukan unjuk rasa di depan Gedung Sate tergabung dalam
Aksi Penyelamatan Indonesia (API). Di samping itu, saya cukup lega setelah
membaca pernyataan dari Kabid Humas Polda Jabar, Ibrahim Tompo, mengenai aksi
unjuk rasa kemarin. Beliau berkata bahwa aksi dilakukan dengan damai dan tanpa
kericuhan.
Saya mengira bahwa
dalam satu judul berita hanya memuat berita mengenai unjuk rasa di Gedung Sate
saja. Ternyata memuat informasi tempat unjuk rasa yang berada di daerah Jawa
Barat lain seperti unjuk rasa di Kabupaten Ciamis, Banjar, Garut, Kota Cirebon,
dan Sukabumi. Lalu, saya dapat menyimpulkan kalau aksi unjuk rasa ini selalu
diinisiasikan oleh organisasi masyarakat atau mahasiswa. Contohnya adalah Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga Aksi
Penyelamatan Indonesia (API).
Ketua PMII Garut,
Ajang Ahmad Haris, meminta pemerintah untuk mengusut tuntas mafia-mafia BBM
yang bermain di BBM subsidi sehingga membuat BBM subsidi menjadi tidak tepat
sasaran. Pernyataan tersebut menurut saya sudah cukup tepat yaitu meminta pemerintah
untuk bergerak mengusut. Namun, tanpa penanganan yang tepat, mau sebaik apapun
performa petugas di lapangan, tidak akan ada artinya bila para mafia ternyata
bukan berasal dari masyarakat melainkan pemerintah itu sendiri. Harapan saya
semoga kecurigaan itu tidak benar.
Pengalaman yang Didapat
Saya dapat
merasakan luapan emosi masyarakat Indonesia saat ini. Awalnya, saya merasa bahwa
saya tidak terlalu terpengaruh secara besar terhadap kebijakan ini. Namun,
setelah membaca berita tersebut saya paham bahwa banyak sekali masyarakat
Indonesia yang terdampak. Kebijakan ini sangat merugikan khalayak ramai
terutama rakyat kecil. Setelah membaca ini saya sadar, ratusan hingga jutaan
manusia hidupnya bergantung pada jalanan.
Berita di atas
saya dapat dari koran dan saya akui media koran memang cukup unik. Berita unjuk
rasa BBM ini memiliki dua halaman yaitu yang pertama adalah headline di halaman
1, dan isi berita lengkapnya terdapat pada halaman 11. Saya terakhir membaca
koran sekitar tahun 2020. Karena sudah cukup lama, saya sedikit kebingungan saat
mencari halaman selanjutnya. Awalnya saya pikir nomor halaman terletak di pojok
kanan bawah seperti buku ternyata ada pada bagian atas di tengah dekat dengan
judul besar. Media koran ini besar dan berlembar-lembar, sedikit membutuhkan
usaha untuk melipat lembaran lain untuk membaca halaman selanjutnya.
2. Surat Kabar Online
Nama :
Audrey Sabila Andrea
NPM :
210104220013
Kelas :
A
Nama Surat Kabar Online : Kabar Wonosobo
Judul Berita : TKA Akan Dihapus di SBMPTN 2023, Ini
Keterangan Lengkap Nadiem Makarim
Waktu Terbit : 9 September 2022
Link : https://kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com/edukasi/pr- 1565462007/tka- akan-dihapus-di-sbmptn-2023-ini-keterangan-lengkap-nadiem-makarim
Tanggapan Terhadap Isi Berita
Saya sangat setuju
dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bapak Nadiem Makarim. Kebijakan ini
memang terkesan mendadak, tetapi menurut saya yang pernah mengikuti SBMPTN dua
kali memang sudah seharusnya pemerintah melakukan perubahan. Pernyataan Pak Nadiem
yang menyatakan bahwa materi ujian TKA terlalu banyak adalah benar. Bayangkan pada
satu mata pelajaran ujian terdapat kurang lebih 15 soal, tetapi materi yang
harus dipelajari jumlahnya puluhan karena merupakan akumulasi dari kelas 10
hingga 12. Murid terpaksa mempelajari semua karena tidak dikeluarkannya
kisi-kisi mengenai apa saja yang keluar pada ujian tersebut.
Mendikbud juga
menilai TKA merupakan bentuk diskriminasi kepada murid dengan ekonomi menengah
ke bawah. Materi TKA yang jumlahnya sangat banyak tidak cukup dipelajari hanya
dengan menggunakan satu sumber. Artinya, untuk mengakses sumber lain dibutuhkan
pengorbanan berupa uang. Misalnya buku berisi latihan soal berkualitas baik dengan
harga yang tidak terjangkau hanya dapat diakses oleh murid yang memiliki
keadaan ekonomi menengah atau menengah ke atas. Sedangkan murid yang tidak
mampu bagaimana nasibnya?
Pak Nadiem
menegaskan bahwa materi yang banyak tersebut sifatnya menekan semua orang
seperti murid, orang tua, hingga tenaga pendidik. Pandangan saya juga seperti
itu. Murid dipaksa untuk fokus mempelajari seluruh materi TKA dengan waktu yang
terbatas. Ditambah dengan distraksi lain misalnya kurikulum saat ini. Sekolah
selalu menempatkan jadwal ujian sekolah dan ujian praktek yang berdempetan
dengan jadwal ujian SBMPTN. Seharusnya pemerintah mengubah dan mengimbau
seluruh sekolah untuk menggeser serta meringankan jadwal aktivitas yang
kesannya menganggu konsentrasi murid dalam ujian utama yaitu SBMPTN. Selanjutnya
tekanan yang dirasakan orang tua. Tidak lain tidak bukan adalah aspek ekonomi.
Tidak semua murid berasal dari orang tua yang memiliki keadaan ekonomi yang
baik. Harus bekerja sekeras apa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan
ditambah dengan keharusan untuk mendapat akses pembelajaran anak yang meningkat?
Jangan lupakan juga tekanan yang dialami oleh tenaga pendidik pada masalah TKA
ini. Tenaga pendidik harus terus menerus mengikuti perkembangan pola soal ujian
dan materi TKA yang jumlahnya fantastis agar murid mendapatkan pengetahuan yang
layak untuk bertempur di ujian nanti.
Kebijakan terbaru
yang dikeluarkan oleh Mendikbud adalah hanya mengujikan tes skolastik yang berfokus
pada pemahaman logika murid. Logika penting digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Logika membantu manusia untuk berpikir secara lurus sehingga
menghindari kesesatan dalam berpikir. Siswa yang nantinya akan berubah status
menjadi mahasiswa dan yang terjun langsung ke masyarakat perlu dibekali dengan
pemahaman dan pelatihan logika yang baik. Dengan terasahnya logika para penerus
bangsa, saya rasa kemampuan berpikir logis mereka akan berkembang dengan maksimal
sehingga mampu bertindak dengan tepat di kondisi tertentu. Mereka akan paham
kapan berpikir logis perlu dipakai ketika nanti berada di tengah masyarakat yang
memiliki kemampuan berpikir variatif.
Pengalaman yang Didapat
Dengan membaca berita ini, saya mengapresiasi Mendikbud karena saya sadar bahwa beberapa tahun ke belakang memiliki kinerja yang
baik dan menawarkan program yang bervariasi kepada mahasiswa seperti Kampus Merdeka.
Saya bersyukur, adik-adik saya yang mengikuti ujian nanti tidak perlu
dihadapkan dengan tes kemampuan akademik sehingga fokusnya untuk meraih kampus
impian di SBMPTN tidak terpecah. Saya juga bersyukur Mendikbud saat ini sudah
lebih mengikuti perkembangan zaman dan memperhatikan kebutuhan siswa.
Ini pertama
kalinya saya membuka Kabar Wonosobo dan tanggapan saya interface dari portal
berita ini sama seperti laman berita online lainnya. Saya merasa
terganggu dengan iklan yang ukurannya cukup besar di bagian kanan, kiri, dan
bawah. Serta muncul iklan di tengah konten pada saat menggulir halaman ke bawah
dan pada saat berpindah ke halaman selanjutnya. Penempatan konten juga membuat
saya tidak nyaman membaca, memang terletak di tengah tetapi karena border
tulisan terlalu sempit dan kalah ukuran dengan iklan yang saya sebutkan tadi
sehingga sedikit membuat pecah fokus sebab tulisan di tengah ini seperti bukan tulisan
utamanya. Saya menyadari bahwa tulisan dibagi menjadi tiga halaman untuk
menaikkan traffic laman. Namun dalam pandangan saya, menjadikan seluruh
tulisan menjadi satu halaman sudah cukup dan membuat nyaman saat membaca.

.png)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar